Kamis, 10 Mei 2012

Goa Jepang di Biak, Papua, Saksi Bisu Sejarah Perang Dunia ke 2

Pulau Biak adalah salah satu pulau di Kabupaten Biak Numfor, Provinsi Papua, Indonesia, mempunyai banyak pantai dengan keindahan atol dan terumbu karang yang indah.

Goa Jepang di Biak, Papua, Saksi Bisu Sejarah Perang Dunia ke 2

Awal pendudukan Jepang di Biak pada 1942, pasukan Jepang berhasil mendaratkan tak kurang dari 10.400 orang serdadunya. Pada periode berikutnya, hembusan angin peperangan memang semakin memihak tentara Sekutu yang dibuktikan dengan rentetan kesuksesan mereka memukul pasukan Jepang di beberapa front Pasifik. Namun seperti halnya di tempat lain, tentara Sekutu memang terbilang cukup kerepotan untuk mengalahkan pasukan Dai Nippon di Biak yang terkenal pantang menyerah dan tak takut mati. Sampai pada akhirnya goa pertahanan terakhir Kolonel Kuzume Naoyuki berhasil disulap menjadi neraka oleh pasukan Sekutu, setelah menghujaninya dengan peluru, granat, minyak, dan lebih dari 850 pon TNT. “Ketika kami memasuki goa-goa itu, aroma mayat terpanggang yang menyengat datang menyambut kami; rupanya peluru, granat, gasoline, dan TNT telah melakukan tugasnya dengan baik”, kata salah seorang veteran punggawa Sekutu, Letnan Jenderal Robert L Eichelberger, dalam buku Jungle Road to Tokyo.

Goa Jepang di Biak, Papua, Saksi Bisu Sejarah Perang Dunia ke 2

Ketika itu Kolonel Kuzume Naoyuki bersama sekira tiga ribu orang serdadu Dai Nippon yang pernah sukses melibas kawasan Pasifik pada periode awal Perang Dunia II, tengah terdesak oleh serangan balik pasukan Sekutu yang semakin menghebat di Biak, Papua. Dalam posisi yang semakin sulit tersebut rombongan Kuzume memutuskan untuk membangun benteng pertahanan terakhir pada sebuah goa yang cukup besar. Namun, pada Rabu 21 Juni 1944 yang nahas itu, Batalyon 1 infanteri 162 Sekutu, berhasil membobol pertahanan serdadu Jepang yang telah sekarat dan hanya tinggal 250 orang saja dengan membakar dan memanggang habis mereka semua yang ada di dalam goa. Tempat itu kemudian dikenal dengan nama “Goa Jepang”.

Goa Jepang di Biak, Papua, Saksi Bisu Sejarah Perang Dunia ke 2

Kawasan obyek wisata Gua Jepang terdapat Museum yang berisi benda - benda bersejarah, peralatan dan perlengkapan perang tentara Jepang yang konon ditemukan di dalam Gua Jepang dan sekitarnya seperti peneng ( kalung dengan liontin yang terbuat dari logam biasanya berfungsi sebagai tanda pengenal ), helm, granat, pistol, dan masih banyak lagi deh. Situs Gua Jepang saat ini dikelola oleh “Yayasan Binsari”.


Pada bagian atas Gua Jepang ini terdapat lubang yang cukup besar sehingga membuat keadaan di dalam gua menjadi terang benderang oleh sinar matahari, konon ceritanya lubang tersebut akibat serangan udara pesawat Sekutu. Pada 7 Juli 1944, pasukan US di bawah pimpinan Mc Arthur menyerang gua Jepang yang menjadi tempat persembunyian tentara Jepang. Selain menjatuhi bom, pasukan Amerika ini juga menjatuhkan berdrum-drum bahan bakar yang kemudian ditembaki dari udara. Hal tersebut membuat gua dipenuhi dengan api dan terjadi ledakan dahsyat berkali - kali. Saking dahsyatnya konon kabarnya kebakaran tersebut berlangsung sampai berbulan-bulan.


Untuk mencapai pintu masuk gua, kita harus menapaki anak tangga yang lumayan banyak ..lumayan berkeringat, hati hati licin..

Untuk mengenang sejarah tersebut diatas, kurang lebih 1km dari wisata goa Jepang terdapat monumen “Perang Dunia Ke Dua” berlokasi dipinggir pantai Paray, Mokmer, Biak. Tempat ini dibangun langsung dengan dana pemerintah jepang yang bertujuan menghormati jasa – jasa para prajuritnya dimedan perang yang diresmikan pembangunanya pada tanggal 24 Maret 1994 oleh pemerintah Jepang dan Indonesia. Arsitektur monumen yang dirancang oleh Hiroshi Ogawa menampilkan bentuk yang unik. Sebuah kubah menyerupai cangkang membentang memayungi tiga set meja lengkap dengan kursi. Di depan ini kubah itu berjajar secara simetris 12 balok marmer. Di sisi monumen terdapat sebuah lorong kecil berkelok. Lorong itu dulunya merupakan goa alam tempat persembunyian dan basis pertahanan tentara Jepang.


Tiga set meja di bawah kubah dan jajaran batu marmer di tepi pantai adalah simbol komando militer. Sementara itu, lorong kecil adalah simbol kekuatan pasukan yang tersembunyi di goa-goa alam di sekitar wilayah Biak. Pantai Paray antara tahun 1919 dan 1945 memang menjadi pusat kegiatan perdagangan bangsa Jepang di Papua. Selama masa Perang Dunia II tempat ini menjadi pangkalan militer. Di tepi pantai inilah Jepang pernah menggoreskan sejarahnya atas wilayah Indonesia.






diambil dari berbagai sumber, oryza aditama  
www.saudaratua.wordpress.com 
-BIAK, KOMPAS.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar