Jumat, 01 Juli 2011
Kenapa Jari Keriput Saat Basah?
Jari-jari yang berubah menjadi keriput ketika basah bisa jadi merupakan sebentuk adaptasi agar kita bisa menggenggam lebih kuat dalam kondisi basah. Hipotesis tersebut disampaikan Mark Changizi, ahli neurobiologi evolusioner di 2AI Labs, di Boise, Idaho, Amerika Serikat.
Hasil studi Changizi bersama koleganya yang dipublikasikan dalam jurnal Brain, Behavior, and Evolution itu bertentangan dengan anggapan umum bahwa jari menjadi keriput karena menyerap air. Menurut Changizi, keriput pada jari yang basah berfungsi seperti alur pada ban. Keriput membentuk kanal sebagai tempat mengalirnya air ketika kita menekan ujung jari pada permukaan yang basah. Inilah yang menyebabkan cengkeraman jari-jari pada permukaan yang basah menjadi lebih kuat.
Hasil studi Changizi bersama koleganya yang dipublikasikan dalam jurnal Brain, Behavior, and Evolution itu bertentangan dengan anggapan umum bahwa jari menjadi keriput karena menyerap air. Menurut Changizi, keriput pada jari yang basah berfungsi seperti alur pada ban. Keriput membentuk kanal sebagai tempat mengalirnya air ketika kita menekan ujung jari pada permukaan yang basah. Inilah yang menyebabkan cengkeraman jari-jari pada permukaan yang basah menjadi lebih kuat.
Changizi bersama timnya mempelajari 28 foto jari-jari yang keriput karena air. Tim dalam pengamatan menemukan kesamaan pola berupa kanal panjang tak bertalian yang merupakan percabangan dari titik di atas jari.
Saat kita menekankan jari, tekanan terjadi dari ujung jari ke belakang. Berbeda dengan bagian samping jari tempat air dapat mengalir dengan mudah, bagian datar pada jari mirip dataran tinggi yang merupakan tempat air bisa menggenang. Keriput terbentuk pada dataran ini karena, "Di situlah kanal terbentuk untuk mengalirkan air," ucap Changizi.
Ia akan menguji hipotesisnya tersebut untuk melihat apakah orang yang jari-jarinya keriput dapat menggenggam lebih baik dalam kondisi basah.
Saat kita menekankan jari, tekanan terjadi dari ujung jari ke belakang. Berbeda dengan bagian samping jari tempat air dapat mengalir dengan mudah, bagian datar pada jari mirip dataran tinggi yang merupakan tempat air bisa menggenang. Keriput terbentuk pada dataran ini karena, "Di situlah kanal terbentuk untuk mengalirkan air," ucap Changizi.
Ia akan menguji hipotesisnya tersebut untuk melihat apakah orang yang jari-jarinya keriput dapat menggenggam lebih baik dalam kondisi basah.
sumber: sains.kompas.com
Kenapa Jari Keriput Saat Basah?
Jari-jari yang berubah menjadi keriput ketika basah bisa jadi merupakan sebentuk adaptasi agar kita bisa menggenggam lebih kuat dalam kondisi basah. Hipotesis tersebut disampaikan Mark Changizi, ahli neurobiologi evolusioner di 2AI Labs, di Boise, Idaho, Amerika Serikat.
Hasil studi Changizi bersama koleganya yang dipublikasikan dalam jurnal Brain, Behavior, and Evolution itu bertentangan dengan anggapan umum bahwa jari menjadi keriput karena menyerap air. Menurut Changizi, keriput pada jari yang basah berfungsi seperti alur pada ban. Keriput membentuk kanal sebagai tempat mengalirnya air ketika kita menekan ujung jari pada permukaan yang basah. Inilah yang menyebabkan cengkeraman jari-jari pada permukaan yang basah menjadi lebih kuat.
Hasil studi Changizi bersama koleganya yang dipublikasikan dalam jurnal Brain, Behavior, and Evolution itu bertentangan dengan anggapan umum bahwa jari menjadi keriput karena menyerap air. Menurut Changizi, keriput pada jari yang basah berfungsi seperti alur pada ban. Keriput membentuk kanal sebagai tempat mengalirnya air ketika kita menekan ujung jari pada permukaan yang basah. Inilah yang menyebabkan cengkeraman jari-jari pada permukaan yang basah menjadi lebih kuat.
Changizi bersama timnya mempelajari 28 foto jari-jari yang keriput karena air. Tim dalam pengamatan menemukan kesamaan pola berupa kanal panjang tak bertalian yang merupakan percabangan dari titik di atas jari.
Saat kita menekankan jari, tekanan terjadi dari ujung jari ke belakang. Berbeda dengan bagian samping jari tempat air dapat mengalir dengan mudah, bagian datar pada jari mirip dataran tinggi yang merupakan tempat air bisa menggenang. Keriput terbentuk pada dataran ini karena, "Di situlah kanal terbentuk untuk mengalirkan air," ucap Changizi.
Ia akan menguji hipotesisnya tersebut untuk melihat apakah orang yang jari-jarinya keriput dapat menggenggam lebih baik dalam kondisi basah.
Saat kita menekankan jari, tekanan terjadi dari ujung jari ke belakang. Berbeda dengan bagian samping jari tempat air dapat mengalir dengan mudah, bagian datar pada jari mirip dataran tinggi yang merupakan tempat air bisa menggenang. Keriput terbentuk pada dataran ini karena, "Di situlah kanal terbentuk untuk mengalirkan air," ucap Changizi.
Ia akan menguji hipotesisnya tersebut untuk melihat apakah orang yang jari-jarinya keriput dapat menggenggam lebih baik dalam kondisi basah.
sumber: sains.kompas.com
Burung Pipit Pun Mengerti Tata Bahasa
Burung pipit berkicau menggunakan pola yang serupa dengan tata bahasa. Temuan itu dilaporkan oleh Kentaro Abe dari Kyoto University, bersama koleganya, Dai Watanabe dari Japan Science and Technology Saitama.
Abe dan timnya melakukan eksperimen dengan memutarkan beberapa lagu berulang kali sampai pipit terbiasa mendengarnya. Kemudian mereka mengacak suku kata setiap lagu dan memperdengarkannya kembali kepada pipit.
Hasilnya, burung itu hanya bereaksi terhadap satu dari empat versi yang telah diacak. Burung pipit itu hanya bereaksi terhadap versi yang dinamakan SEQ2, seolah-olah menyadari ada pelanggaran tata bahasa di dalamnya. Hampir 90 persen dari burung pipit yang diuji menunjukkan respons yang sama.
Menurut Abe, respons tersebut mengindikasikan adanya aturan tertentu dalam pengaturan urutan suku kata dalam nyanyian burung pipit yang disepakati dalam komunitas mereka. "Burung pipit ini mempunyai kemampuan spontan untuk memproses hubungan antarkata dalam nyanyian mereka," kata Abe.
Kemampuan tersebut bukanlah bawaan lahir melainkan harus dipelajari. Dalam eksperimen berikutnya, Abe menemukan burung yang dibesarkan dalam isolasi tidak bereaksi terhadap SEQ2. Setelah burung itu dikumpulkan bersama burung-burung lainnya selama dua minggu, barulah burung itu menunjukkan reaksi yang sama.
Constance Scharff yang mempelajari kicauan burung di Free University of Berlin, Jerman, mengatakan bahwa hasil eksperimen tersebut sangat penting karena sebelumnya hanya manusia yang diklaim sebagai satu-satunya spesies yang menggunakan tata bahasa. Binatang lain seperti anjing, kera, dan burung kakatua dapat mengenali dan menyusun kalimat. Namun, hanya burung pipit yang menggunakan tata bahasa dalam kicauan mereka. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)
Menurut Abe, respons tersebut mengindikasikan adanya aturan tertentu dalam pengaturan urutan suku kata dalam nyanyian burung pipit yang disepakati dalam komunitas mereka. "Burung pipit ini mempunyai kemampuan spontan untuk memproses hubungan antarkata dalam nyanyian mereka," kata Abe.
Kemampuan tersebut bukanlah bawaan lahir melainkan harus dipelajari. Dalam eksperimen berikutnya, Abe menemukan burung yang dibesarkan dalam isolasi tidak bereaksi terhadap SEQ2. Setelah burung itu dikumpulkan bersama burung-burung lainnya selama dua minggu, barulah burung itu menunjukkan reaksi yang sama.
Constance Scharff yang mempelajari kicauan burung di Free University of Berlin, Jerman, mengatakan bahwa hasil eksperimen tersebut sangat penting karena sebelumnya hanya manusia yang diklaim sebagai satu-satunya spesies yang menggunakan tata bahasa. Binatang lain seperti anjing, kera, dan burung kakatua dapat mengenali dan menyusun kalimat. Namun, hanya burung pipit yang menggunakan tata bahasa dalam kicauan mereka. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)
sumber: sains.kompas.com
Burung Pipit Pun Mengerti Tata Bahasa
Burung pipit berkicau menggunakan pola yang serupa dengan tata bahasa. Temuan itu dilaporkan oleh Kentaro Abe dari Kyoto University, bersama koleganya, Dai Watanabe dari Japan Science and Technology Saitama.
Abe dan timnya melakukan eksperimen dengan memutarkan beberapa lagu berulang kali sampai pipit terbiasa mendengarnya. Kemudian mereka mengacak suku kata setiap lagu dan memperdengarkannya kembali kepada pipit.
Hasilnya, burung itu hanya bereaksi terhadap satu dari empat versi yang telah diacak. Burung pipit itu hanya bereaksi terhadap versi yang dinamakan SEQ2, seolah-olah menyadari ada pelanggaran tata bahasa di dalamnya. Hampir 90 persen dari burung pipit yang diuji menunjukkan respons yang sama.
Menurut Abe, respons tersebut mengindikasikan adanya aturan tertentu dalam pengaturan urutan suku kata dalam nyanyian burung pipit yang disepakati dalam komunitas mereka. "Burung pipit ini mempunyai kemampuan spontan untuk memproses hubungan antarkata dalam nyanyian mereka," kata Abe.
Kemampuan tersebut bukanlah bawaan lahir melainkan harus dipelajari. Dalam eksperimen berikutnya, Abe menemukan burung yang dibesarkan dalam isolasi tidak bereaksi terhadap SEQ2. Setelah burung itu dikumpulkan bersama burung-burung lainnya selama dua minggu, barulah burung itu menunjukkan reaksi yang sama.
Constance Scharff yang mempelajari kicauan burung di Free University of Berlin, Jerman, mengatakan bahwa hasil eksperimen tersebut sangat penting karena sebelumnya hanya manusia yang diklaim sebagai satu-satunya spesies yang menggunakan tata bahasa. Binatang lain seperti anjing, kera, dan burung kakatua dapat mengenali dan menyusun kalimat. Namun, hanya burung pipit yang menggunakan tata bahasa dalam kicauan mereka. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)
Menurut Abe, respons tersebut mengindikasikan adanya aturan tertentu dalam pengaturan urutan suku kata dalam nyanyian burung pipit yang disepakati dalam komunitas mereka. "Burung pipit ini mempunyai kemampuan spontan untuk memproses hubungan antarkata dalam nyanyian mereka," kata Abe.
Kemampuan tersebut bukanlah bawaan lahir melainkan harus dipelajari. Dalam eksperimen berikutnya, Abe menemukan burung yang dibesarkan dalam isolasi tidak bereaksi terhadap SEQ2. Setelah burung itu dikumpulkan bersama burung-burung lainnya selama dua minggu, barulah burung itu menunjukkan reaksi yang sama.
Constance Scharff yang mempelajari kicauan burung di Free University of Berlin, Jerman, mengatakan bahwa hasil eksperimen tersebut sangat penting karena sebelumnya hanya manusia yang diklaim sebagai satu-satunya spesies yang menggunakan tata bahasa. Binatang lain seperti anjing, kera, dan burung kakatua dapat mengenali dan menyusun kalimat. Namun, hanya burung pipit yang menggunakan tata bahasa dalam kicauan mereka. (National Geographic Indonesia/Agung Dwi Cahyadi)
sumber: sains.kompas.com
Kamis, 30 Juni 2011
Pesawat Masa Depan Berdinding Transparan
Bentuk pesawat masa depan mungkin menyediakan suasana kabin yang lebih alami dengan pencahayaan langsung dari luar. Produsen pesawat Airbus mengungkap konsep pesawat futurtistik yang menggunakan dinding kabin transparan semacam itu.
Konsep pesawat Airbus yang akan diproduksi tahun 2050 menggunakan dinding transparan yang bisa mengatur pencahayaan dan suhu di dalam kabin.
"Riset yang kami lakukan menunjukkan bahwa pada tahun 2050, penumpang berharap mendapat pengalaman melakukan perjalanan dengan nayaman sekaligus tetap peduli dengan keadaan lingkungan. Konsep kabinnya dirancang sesuai pemikiran seperti itu," kata Charles Champion, Engineering Executive Vice President di London, Senin (13/6/2011).
Dengan kabin transparan, semua penumpang dapat menikmati pemandangan luar pesawat lebih leluasa. Tidak asal transparan, karena dindingnya bisa berubah-ubah sesuai kondisi tingkat pencahayaan di luar karena menggunakan material membran cerdas. Dindingnay bisa mengatur paparan sinar Matahari sehingga suhu dalam ruangan bisa diatur stabil.
Pesawat yang mungkin baru diproduksi tahun 2050 itu juga dilengkapi fasilitas hiburan yang interaktif dan teknologi yang saat ini mungkin baru angan-angan. Misalnya, game yang berupa hologram di depan penumpang.
Desainer Airbus juga yakin, saat itu penumpang bahkan bisa bermain golf di dalam kabin pesawat. Tentu saja bukan bermain dalam arti sesungguhnya, namun secara virtual di salah satu bagian yang dirancang seperti sebuah lapangan golf. Pada kesempatan lain, tempat yang sama bisa berubah menjadi ruangan meeting sesuai kebutuhan penumpang.
Ada juga ruangan khusus untuk bersantai yang dilengkapi fasilitas pencahayaan yang memperbaiki mood, aromaterapi, fasilitas pijat, dan udara segar dengan kandungan zat antioksidan untuk membantu penumpang rileks.
Yang menarik, pesawat ini juga mengusung teknologi hijau antara lain memanfaatkan energi tebarukan dengan mengubah panas tubuh penumpang menjadi sumber energi bagi fasilitas hiburan yang tersedia buat setiap penumpang. Teknologi dalam pesawat ini juga menggunakan bahan bakar sangat efisien, rendah emisi, dan pengolahan sampah yang efektif.
Secara keseluruhan, kabin pesawat rancangan Airbus meniru konsep tulang burung. Strukturnya seperti tulang burung yang membuatnya bisa terbang dengan sangat efisien. Nah, dengan konsep pesawat semacam itu, perjalanan mungkin bukan sekadar pindah dari satu tempat ke tempat lain melainkan pengalaman yang tak terlupakan. Tunggu saja pesawat ini jadi kenyataan.
Dengan kabin transparan, semua penumpang dapat menikmati pemandangan luar pesawat lebih leluasa. Tidak asal transparan, karena dindingnya bisa berubah-ubah sesuai kondisi tingkat pencahayaan di luar karena menggunakan material membran cerdas. Dindingnay bisa mengatur paparan sinar Matahari sehingga suhu dalam ruangan bisa diatur stabil.
Pesawat yang mungkin baru diproduksi tahun 2050 itu juga dilengkapi fasilitas hiburan yang interaktif dan teknologi yang saat ini mungkin baru angan-angan. Misalnya, game yang berupa hologram di depan penumpang.
Desainer Airbus juga yakin, saat itu penumpang bahkan bisa bermain golf di dalam kabin pesawat. Tentu saja bukan bermain dalam arti sesungguhnya, namun secara virtual di salah satu bagian yang dirancang seperti sebuah lapangan golf. Pada kesempatan lain, tempat yang sama bisa berubah menjadi ruangan meeting sesuai kebutuhan penumpang.
Ada juga ruangan khusus untuk bersantai yang dilengkapi fasilitas pencahayaan yang memperbaiki mood, aromaterapi, fasilitas pijat, dan udara segar dengan kandungan zat antioksidan untuk membantu penumpang rileks.
Yang menarik, pesawat ini juga mengusung teknologi hijau antara lain memanfaatkan energi tebarukan dengan mengubah panas tubuh penumpang menjadi sumber energi bagi fasilitas hiburan yang tersedia buat setiap penumpang. Teknologi dalam pesawat ini juga menggunakan bahan bakar sangat efisien, rendah emisi, dan pengolahan sampah yang efektif.
Secara keseluruhan, kabin pesawat rancangan Airbus meniru konsep tulang burung. Strukturnya seperti tulang burung yang membuatnya bisa terbang dengan sangat efisien. Nah, dengan konsep pesawat semacam itu, perjalanan mungkin bukan sekadar pindah dari satu tempat ke tempat lain melainkan pengalaman yang tak terlupakan. Tunggu saja pesawat ini jadi kenyataan.
sumber: sains.kompas.com
Langganan:
Postingan (Atom)



