Tampilkan postingan dengan label Oke Punya.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oke Punya.... Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Maret 2012

Cara Meninggikan Tubuh Anak Anda

Sebagai orangtua jangan menyia-nyiakan tahapan pertumbuhan anak agar tinggi badannya maksimal. Apa saja yang harus dipersiapkan?
Genetik seringkali dituding sebagai penyebab seseorang menjadi tinggi atau pendek. Padahal faktor genetik tidak berdiri sendiri. Faktor genetik memegang peranan terhadap pertumbuhan optimal. Tapi tinggi seseorang bisa maksimal, dipengaruhi juga oleh nutrisi serta aktivitas.
Mengonsumsi makanan seimbang sangat diperlukan sejak dini. Menurut dokter spesialis gizi klinik, Samuel Oetoro, tiap orang memiliki tahap pacu tumbuh dua kali dalam hidupnya.
Ini Lho Resep Agar Tubuh Anak Menjadi Tinggi
Sayangnya, seringkali pada tahap tersebut, asupan makanan yang masuk tidak seimbang. Maka diperlukan pelengkap makanan dan juga mengganti nutrisi. Salah satu makanan yang hampir lengkap berisi gizi makro dan mikro terdapat dalam susu.
“Minum susu berlangsung terus sepanjang usia. Dari mata bisa melek sampai tutup mata,” kata dr Samuel saat talkshow “Pentingnya Konsumsi Susu Guna Memenuhi Kebutuhan Nutrisi” pekan lalu.
Dengan kata lain, sepanjang usia seseorang tetap memerlukan susu. Untuk memastikan kalsium dalam tulang terpenuhi. Pada masa anak-anak, kalsium diperlukan agar tulang menjadi tinggi sehingga postur tubuh menjadi tinggi.
Selain itu, tersedianya kalsium akan disimpan menjadi cadangan hingga usia 30 tahun, karena pada usia itu kalsium dalam tulang mulai keluar.
Pada saat itulah minum susu tetap diperlukan agar deposit kalsium tidak terus terambil, sehingga tulang tetap kuat. Jika cadangan kalsium tercukupi, tulang tidak akan cepat keropos sehingga terhindar dari osteoporosis.
Lalu kenapa, bayi dan anak-anak identik dengan minum susu? Bayi tentu saja tidak bisa langsung makan nasi uduk, tapi harus makanan cair berbentuk susu. Sampai usia enam bulan, Air Susu Ibu (ASI) menjadi makanan yang sempurna bagi bayi.
Setelah enam bulan, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi. Paling lambat usia 6 bulan, selain ASI, bayi harus diberi Makanan Pendamping ASI (MAPSI). Tetapi, tidak ada salahnya ASI tetap diberikan sampai usia dua tahun.
Akan tetapi, cakupan pemberian ASI di Indonesia hingga usia dua tahun terus menurun, yakni tinggal 27 persen saja. Padahal susu tetap diperlukan. Terlebih, pada usia tersebut pun, tidak sedikit bayi yang ketrampilan makannya belum baik.
Selain kalsium yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi. Vitamin D, A, zinc (seng), dan selenium dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Selain cakupan pemberian ASI yang berkurang, konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia juga kurang. Hanya 11,7 liter per tahun per kapita. Angka ini jauh tertinggal dengan negara tetangga. Misalnya Thailand mencapai 26,9 liter perkapita, Malaysia 25,4 liter per kapita, dan Singapura 21,7 liter per kapita.
Berapa konsumsi minum susu yang ideal? Menurut dr Samuel, untuk anak-anak agar sehat dan petumbuhannnya terjamin, 2 gelas perhari (500 cc). Sementara orang dewasa 1 gelas per hari.



Spektakuler Kan ? [[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Cara Meninggikan Tubuh Anak Anda

Sebagai orangtua jangan menyia-nyiakan tahapan pertumbuhan anak agar tinggi badannya maksimal. Apa saja yang harus dipersiapkan?
Genetik seringkali dituding sebagai penyebab seseorang menjadi tinggi atau pendek. Padahal faktor genetik tidak berdiri sendiri. Faktor genetik memegang peranan terhadap pertumbuhan optimal. Tapi tinggi seseorang bisa maksimal, dipengaruhi juga oleh nutrisi serta aktivitas.
Mengonsumsi makanan seimbang sangat diperlukan sejak dini. Menurut dokter spesialis gizi klinik, Samuel Oetoro, tiap orang memiliki tahap pacu tumbuh dua kali dalam hidupnya.
Ini Lho Resep Agar Tubuh Anak Menjadi Tinggi
Sayangnya, seringkali pada tahap tersebut, asupan makanan yang masuk tidak seimbang. Maka diperlukan pelengkap makanan dan juga mengganti nutrisi. Salah satu makanan yang hampir lengkap berisi gizi makro dan mikro terdapat dalam susu.
“Minum susu berlangsung terus sepanjang usia. Dari mata bisa melek sampai tutup mata,” kata dr Samuel saat talkshow “Pentingnya Konsumsi Susu Guna Memenuhi Kebutuhan Nutrisi” pekan lalu.
Dengan kata lain, sepanjang usia seseorang tetap memerlukan susu. Untuk memastikan kalsium dalam tulang terpenuhi. Pada masa anak-anak, kalsium diperlukan agar tulang menjadi tinggi sehingga postur tubuh menjadi tinggi.
Selain itu, tersedianya kalsium akan disimpan menjadi cadangan hingga usia 30 tahun, karena pada usia itu kalsium dalam tulang mulai keluar.
Pada saat itulah minum susu tetap diperlukan agar deposit kalsium tidak terus terambil, sehingga tulang tetap kuat. Jika cadangan kalsium tercukupi, tulang tidak akan cepat keropos sehingga terhindar dari osteoporosis.
Lalu kenapa, bayi dan anak-anak identik dengan minum susu? Bayi tentu saja tidak bisa langsung makan nasi uduk, tapi harus makanan cair berbentuk susu. Sampai usia enam bulan, Air Susu Ibu (ASI) menjadi makanan yang sempurna bagi bayi.
Setelah enam bulan, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi. Paling lambat usia 6 bulan, selain ASI, bayi harus diberi Makanan Pendamping ASI (MAPSI). Tetapi, tidak ada salahnya ASI tetap diberikan sampai usia dua tahun.
Akan tetapi, cakupan pemberian ASI di Indonesia hingga usia dua tahun terus menurun, yakni tinggal 27 persen saja. Padahal susu tetap diperlukan. Terlebih, pada usia tersebut pun, tidak sedikit bayi yang ketrampilan makannya belum baik.
Selain kalsium yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi. Vitamin D, A, zinc (seng), dan selenium dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Selain cakupan pemberian ASI yang berkurang, konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia juga kurang. Hanya 11,7 liter per tahun per kapita. Angka ini jauh tertinggal dengan negara tetangga. Misalnya Thailand mencapai 26,9 liter perkapita, Malaysia 25,4 liter per kapita, dan Singapura 21,7 liter per kapita.
Berapa konsumsi minum susu yang ideal? Menurut dr Samuel, untuk anak-anak agar sehat dan petumbuhannnya terjamin, 2 gelas perhari (500 cc). Sementara orang dewasa 1 gelas per hari.



Spektakuler Kan ? [[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Cara Meninggikan Tubuh Anak Anda

Sebagai orangtua jangan menyia-nyiakan tahapan pertumbuhan anak agar tinggi badannya maksimal. Apa saja yang harus dipersiapkan?
Genetik seringkali dituding sebagai penyebab seseorang menjadi tinggi atau pendek. Padahal faktor genetik tidak berdiri sendiri. Faktor genetik memegang peranan terhadap pertumbuhan optimal. Tapi tinggi seseorang bisa maksimal, dipengaruhi juga oleh nutrisi serta aktivitas.
Mengonsumsi makanan seimbang sangat diperlukan sejak dini. Menurut dokter spesialis gizi klinik, Samuel Oetoro, tiap orang memiliki tahap pacu tumbuh dua kali dalam hidupnya.
Ini Lho Resep Agar Tubuh Anak Menjadi Tinggi
Sayangnya, seringkali pada tahap tersebut, asupan makanan yang masuk tidak seimbang. Maka diperlukan pelengkap makanan dan juga mengganti nutrisi. Salah satu makanan yang hampir lengkap berisi gizi makro dan mikro terdapat dalam susu.
“Minum susu berlangsung terus sepanjang usia. Dari mata bisa melek sampai tutup mata,” kata dr Samuel saat talkshow “Pentingnya Konsumsi Susu Guna Memenuhi Kebutuhan Nutrisi” pekan lalu.
Dengan kata lain, sepanjang usia seseorang tetap memerlukan susu. Untuk memastikan kalsium dalam tulang terpenuhi. Pada masa anak-anak, kalsium diperlukan agar tulang menjadi tinggi sehingga postur tubuh menjadi tinggi.
Selain itu, tersedianya kalsium akan disimpan menjadi cadangan hingga usia 30 tahun, karena pada usia itu kalsium dalam tulang mulai keluar.
Pada saat itulah minum susu tetap diperlukan agar deposit kalsium tidak terus terambil, sehingga tulang tetap kuat. Jika cadangan kalsium tercukupi, tulang tidak akan cepat keropos sehingga terhindar dari osteoporosis.
Lalu kenapa, bayi dan anak-anak identik dengan minum susu? Bayi tentu saja tidak bisa langsung makan nasi uduk, tapi harus makanan cair berbentuk susu. Sampai usia enam bulan, Air Susu Ibu (ASI) menjadi makanan yang sempurna bagi bayi.
Setelah enam bulan, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi. Paling lambat usia 6 bulan, selain ASI, bayi harus diberi Makanan Pendamping ASI (MAPSI). Tetapi, tidak ada salahnya ASI tetap diberikan sampai usia dua tahun.
Akan tetapi, cakupan pemberian ASI di Indonesia hingga usia dua tahun terus menurun, yakni tinggal 27 persen saja. Padahal susu tetap diperlukan. Terlebih, pada usia tersebut pun, tidak sedikit bayi yang ketrampilan makannya belum baik.
Selain kalsium yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi. Vitamin D, A, zinc (seng), dan selenium dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Selain cakupan pemberian ASI yang berkurang, konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia juga kurang. Hanya 11,7 liter per tahun per kapita. Angka ini jauh tertinggal dengan negara tetangga. Misalnya Thailand mencapai 26,9 liter perkapita, Malaysia 25,4 liter per kapita, dan Singapura 21,7 liter per kapita.
Berapa konsumsi minum susu yang ideal? Menurut dr Samuel, untuk anak-anak agar sehat dan petumbuhannnya terjamin, 2 gelas perhari (500 cc). Sementara orang dewasa 1 gelas per hari.



Spektakuler Kan ? [[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Cara Meninggikan Tubuh Anak Anda

Sebagai orangtua jangan menyia-nyiakan tahapan pertumbuhan anak agar tinggi badannya maksimal. Apa saja yang harus dipersiapkan?
Genetik seringkali dituding sebagai penyebab seseorang menjadi tinggi atau pendek. Padahal faktor genetik tidak berdiri sendiri. Faktor genetik memegang peranan terhadap pertumbuhan optimal. Tapi tinggi seseorang bisa maksimal, dipengaruhi juga oleh nutrisi serta aktivitas.
Mengonsumsi makanan seimbang sangat diperlukan sejak dini. Menurut dokter spesialis gizi klinik, Samuel Oetoro, tiap orang memiliki tahap pacu tumbuh dua kali dalam hidupnya.
Ini Lho Resep Agar Tubuh Anak Menjadi Tinggi
Sayangnya, seringkali pada tahap tersebut, asupan makanan yang masuk tidak seimbang. Maka diperlukan pelengkap makanan dan juga mengganti nutrisi. Salah satu makanan yang hampir lengkap berisi gizi makro dan mikro terdapat dalam susu.
“Minum susu berlangsung terus sepanjang usia. Dari mata bisa melek sampai tutup mata,” kata dr Samuel saat talkshow “Pentingnya Konsumsi Susu Guna Memenuhi Kebutuhan Nutrisi” pekan lalu.
Dengan kata lain, sepanjang usia seseorang tetap memerlukan susu. Untuk memastikan kalsium dalam tulang terpenuhi. Pada masa anak-anak, kalsium diperlukan agar tulang menjadi tinggi sehingga postur tubuh menjadi tinggi.
Selain itu, tersedianya kalsium akan disimpan menjadi cadangan hingga usia 30 tahun, karena pada usia itu kalsium dalam tulang mulai keluar.
Pada saat itulah minum susu tetap diperlukan agar deposit kalsium tidak terus terambil, sehingga tulang tetap kuat. Jika cadangan kalsium tercukupi, tulang tidak akan cepat keropos sehingga terhindar dari osteoporosis.
Lalu kenapa, bayi dan anak-anak identik dengan minum susu? Bayi tentu saja tidak bisa langsung makan nasi uduk, tapi harus makanan cair berbentuk susu. Sampai usia enam bulan, Air Susu Ibu (ASI) menjadi makanan yang sempurna bagi bayi.
Setelah enam bulan, ASI tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi. Paling lambat usia 6 bulan, selain ASI, bayi harus diberi Makanan Pendamping ASI (MAPSI). Tetapi, tidak ada salahnya ASI tetap diberikan sampai usia dua tahun.
Akan tetapi, cakupan pemberian ASI di Indonesia hingga usia dua tahun terus menurun, yakni tinggal 27 persen saja. Padahal susu tetap diperlukan. Terlebih, pada usia tersebut pun, tidak sedikit bayi yang ketrampilan makannya belum baik.
Selain kalsium yang dibutuhkan untuk menjaga kekuatan tulang dan gigi. Vitamin D, A, zinc (seng), dan selenium dibutuhkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit.
Selain cakupan pemberian ASI yang berkurang, konsumsi susu perkapita masyarakat Indonesia juga kurang. Hanya 11,7 liter per tahun per kapita. Angka ini jauh tertinggal dengan negara tetangga. Misalnya Thailand mencapai 26,9 liter perkapita, Malaysia 25,4 liter per kapita, dan Singapura 21,7 liter per kapita.
Berapa konsumsi minum susu yang ideal? Menurut dr Samuel, untuk anak-anak agar sehat dan petumbuhannnya terjamin, 2 gelas perhari (500 cc). Sementara orang dewasa 1 gelas per hari.



Spektakuler Kan ? [[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Kamis, 15 Maret 2012

Asal Mula Mengapa Hari = 24 Jam

Pernahkahkita bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya.



Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.



Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya

jam mekanik di Eropa pada abad ke-14

 

Hipparcus
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

 

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.
 

[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Asal Mula Mengapa Hari = 24 Jam

Pernahkahkita bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya.



Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.



Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya

jam mekanik di Eropa pada abad ke-14

 

Hipparcus
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

 

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.
 

[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Asal Mula Mengapa Hari = 24 Jam

Pernahkahkita bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya.



Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.



Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya

jam mekanik di Eropa pada abad ke-14

 

Hipparcus
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

 

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.
 

[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Asal Mula Mengapa Hari = 24 Jam

Pernahkahkita bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya.



Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.



Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya

jam mekanik di Eropa pada abad ke-14

 

Hipparcus
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

 

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.
 

[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Asal Mula Mengapa Hari = 24 Jam

Pernahkahkita bertanya-tanya mengapa dalam 1 hari ada 24 jam, dalam 1 menit ada 60 detik, dan dalam 1 detik ada 60 menit? Inilah jawabannya.



Sistem bilangan yang paling banyak digunakan manusia saat ini adalah sistem desimal, yaitu sebuah sistem bilangan berbasis 10. Namun untuk mengukur waktu kita menggunakan sistem duodesimal (basis 12) dan sexadesimal (basis 60). Hal ini disebabkan karena metode untuk membagi hari diturunkan dari sistem bilangan yang digunakan oleh peradaban kuno Mediterania. Pada sekitar tahun 1500 SM, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12, dan mereka mengembangkan sebuah sistem jam matahari berbentuk seperti huruf T yang diletakkan di atas tanah dan membagi waktu antara matahari terbit dan tenggelam ke dalam 12 bagian. Para ahli sejarah berpendapat, orang-orang Mesir kuno menggunakan sistem bilangan berbasis 12 didasarkan akan jumlah siklus bulan dalam setahun atau bisa juga didasarkan akan banyaknya jumlah sendi jari manusia (3 di tiap jari, tidak termasuk jempol) yang memungkinkan mereka berhitung hingga 12 menggunakan jempol.



Jam matahari generasi berikutnya sudah sedikit banyak merepresentasikan apa yang sekarang kita sebut dengan “jam”. Sedangkan pembagian malam menjadi 12 bagian, didasarkan atas pengamatan para ahli astronomi Mesir kuno akan adanya 12 bintang di langit pada saat malam hari.



Dengan membagi satu hari dan satu malam menjadi masing-masing 12 jam, maka dengan tidak langsung konsep 24 jam diperkenalkan. Namun demikian panjang hari dan panjang malam tidaklah sama, tergantung musimnya (contoh: saat musim panas hari lebih panjang dibandingkan malam). Oleh karena itu pembagian jam dalam satu hari pun berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Sistem waktu ini disebut dengan sistem waktu musiman. Pada sekitar tahun 147-127 SM, seorang ahli astronomi Yunani bernama Hipparchus menyarankan agar banyaknya jam dalam satu hari dibuat tetap saja yaitu sebanyak 24 jam, disebut dengan sistem waktu equinoctial. Namun sistem ini baru diterima secara luas oleh saat ditemukannya

jam mekanik di Eropa pada abad ke-14

 

Hipparcus
Eratosthenes (276-194 SM), seorang ahli astronomi Yunani lainnya membagi sebuah lingkaran menjadi 60 bagian untuk membuat sistem geografis latitude. Teknik ini didasarkan atas sistem berbasis 60 yang digunakan oleh orang-orang Babilonia yang berdiam di Mesopotamia, yang jika ditilik lebih jauh diturunkan dari sistem yang digunakan oleh peradaban Sumeria sekitar 2000 SM. Tidak diketahui dengan pasti mengapa menggunakan sistem bilangan berbasis 60, namun satu dugaan mengatakan untuk kemudahan perhitungan karena angka 60 adalah merupakan angka terkecil yang dapat dibagi habis oleh 10, 12, 15, 20 dan 30.

 

Satu abad kemudian, Hipparchus memperkenalkan sistem longitude 360 derajat. Dan pada sekitar 130 M, Claudius Ptolemy membagi tiap derajat menjadi 60 bagian. Bagian pertama disebut dengan partes minutae primae yang artinya menit pertama, bagian yang kedua disebut partes minutae secundae atau menit kedua, dan seterusnya. Walaupun ada 60 bagian, yang digunakan hanyalah 2 bagian yang pertama saja dimana bagian yang pertama menjadi menit, dan bagian yang kedua menjadi detik. Sedangkan sisa 58 bagian yang lainnya membentuk satuan waktu yang lebih kecil daripada detik.

Sistem waktu ini membutuhkan waktu berabad-abad untuk tersebar luas penggunaannya. Bahkan jam penunjuk waktu pertama yang menampilkan menit dibuat pertama kali pada abad ke-16. Sistem waktu ini digunakan hingga sekarang oleh kita manusia modern.
 

[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

Rabu, 14 Maret 2012

5 Pegunungan Tertinggi Di Tata Surya

Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung. Nah selain di bumi ternyata di sistem tata surya kita ini juga ada pegunungan pegunungan yang tinggi tinggi nah kamu mau tahu pegunungan apa aja itu yuk kita simak 5 Pegunungan Paling Tinggi Dalam Sistem Tata Surya berikut ini.
1. Pegunungan Maxwell

Maxwell adalah titik tertinggi di permukaan planet Venus yang tingginya 11.000 m. Terletak di dataran tinggi utara Ishtar Terra, yang asal usulnya berasal dari sabuk pegunungan yang masih kontroversi mengenai awal mula terbentuknya. Maxwell ditemukan pertama kali pada tahun 1967 oleh para ilmuwan di Radio Telescope Amerika Arecibo di Puerto Rico. Gunung ini dinamai setelah matematikawan dan seorang dokter bernama James Clerk Maxwell yang bekerja menggunakan gelombang radio yang dibuat oleh radar dan akhirnya dapat megeksplorasi wilayah permukaan Planet Venus.
2. Bubungan Khatulistiwa

Terletak di belahan bumi yang gelap dari satelit terbesar ketiga, Lapetus di Planet Saturnus, Bubungan Khatulistiwa terdapat di sepanjang belahan tengah yang terisolasi beberapa puncak setinggi 20 km. Bubungan Equatorial ini ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 31 Desember 2004. Pembentukan punggungan masih diperdebatkan para ilmuwan, namun telah disepakati bahwa bubungan kuno ini terbentuk karena permukaan yang berkawah-kawah. Tonjolan yang sangat mencolok dari punggungan ini membentuk satelit Lapetus seperti buah kenari.
3. Olympus Mons

Sejauh ini gunung tertinggi yang pernah ditemukan di tata surya kita adalah gunung Olympus Mons yang tingginya 24 km di atas sebuah dataran halus di Planet Mars. Tingginya sekitar tiga kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Olympus Mons ditemukan saat penyelidikan ruang angkasa Amerika Serikat, Mariner 9, pada tahun 1971 ketika ia mengirimkan gambar empat gunung vulkanik besar. Perlu dikethui bahwa bagian perisai dari Olympus Mons ukurannya sama dengan gunung Mauna Kea di Bumi. Ketinggian yang luar biasa dari Olympus Mons berakibat tidak adanya pergerakan lempeng tektonik yang memungkinkan gunung untuk tetap pada tempatnya. Lava gunung terus mengalir sampai mencapai ketinggian yang cukup. Dasar gunung terus menerus turun sedalam 2 km jauh ke arah kerak setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena adanya tekanan yang sangat besar menekan kerak Planet Mars.
4. Mauna Kea

Mauna Kea adalah gunung berapi aktif terbesar yang terletak di sebelah utara Pulau Hawaii, sekitar 43 km barat laut dari Hilo. Ketinggiannya 4205 m di atas permukaan laut, Mauna Kea menghujam ke wilayah laut sedalam 5547 km ke arah dasar laut. Jadi, jika dihitung dari dasar laut ke puncak gunung maka Mauna Kea adalah yang tertinggi di Bumi. Terakhir kali Mauna Kea aktif lebih dari 4000 tahun yang lalu. Pada puncaknya terdapat salju yang mengerucut dan biasa digunakan untuk bermain ski serta wilayah ini termasuk dalam situs Observatorium Mauna Kea yang merupakan observatorium astronomi tertinggi di dunia. Pada lereng bagian atas gunung terdapat gua tempat orang Hawaii kuno menggali basal untuk membuat peralatan. Lereng bawah gunung biasa digunakan untuk peternakan sapi dan perkebunan kopi. Gunung ini dianggap dalam legenda Hawaii sebagai rumah dari Dewi Poliahu, dewi api Mauna Kea.
5. Gunung Everest

Gunung Everest adalah gunung tertinggi di bumi yang terdapat di pegunungan Himalaya timur antara Nepal dan Tibet. Gunung Everest adalah sebuah gunung kapur muda yang belum terkena oleh erosi dan memiliki dua puncak, salah satunya mencapai ketinggian 8848 m. Everest selalu tertutup salju kecuali bagian yang terkena angin kencang. Banyak terdapat gletser yang meningkat dekat dasar Gunung Everest. Everest adalah nama yang diberikan pada gunung ini tahun 1865 untuk menghormati Sir George Everest, seorang surveyor Inggris di India yang menemukan lokasi gunung dan memperkirakan ketinggian gunung. Dalam bahasa Tibet diberi nama Chomolungma yang artinya “ibu dewi dunia”.



[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

5 Pegunungan Tertinggi Di Tata Surya

Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung. Nah selain di bumi ternyata di sistem tata surya kita ini juga ada pegunungan pegunungan yang tinggi tinggi nah kamu mau tahu pegunungan apa aja itu yuk kita simak 5 Pegunungan Paling Tinggi Dalam Sistem Tata Surya berikut ini.
1. Pegunungan Maxwell

Maxwell adalah titik tertinggi di permukaan planet Venus yang tingginya 11.000 m. Terletak di dataran tinggi utara Ishtar Terra, yang asal usulnya berasal dari sabuk pegunungan yang masih kontroversi mengenai awal mula terbentuknya. Maxwell ditemukan pertama kali pada tahun 1967 oleh para ilmuwan di Radio Telescope Amerika Arecibo di Puerto Rico. Gunung ini dinamai setelah matematikawan dan seorang dokter bernama James Clerk Maxwell yang bekerja menggunakan gelombang radio yang dibuat oleh radar dan akhirnya dapat megeksplorasi wilayah permukaan Planet Venus.
2. Bubungan Khatulistiwa

Terletak di belahan bumi yang gelap dari satelit terbesar ketiga, Lapetus di Planet Saturnus, Bubungan Khatulistiwa terdapat di sepanjang belahan tengah yang terisolasi beberapa puncak setinggi 20 km. Bubungan Equatorial ini ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 31 Desember 2004. Pembentukan punggungan masih diperdebatkan para ilmuwan, namun telah disepakati bahwa bubungan kuno ini terbentuk karena permukaan yang berkawah-kawah. Tonjolan yang sangat mencolok dari punggungan ini membentuk satelit Lapetus seperti buah kenari.
3. Olympus Mons

Sejauh ini gunung tertinggi yang pernah ditemukan di tata surya kita adalah gunung Olympus Mons yang tingginya 24 km di atas sebuah dataran halus di Planet Mars. Tingginya sekitar tiga kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Olympus Mons ditemukan saat penyelidikan ruang angkasa Amerika Serikat, Mariner 9, pada tahun 1971 ketika ia mengirimkan gambar empat gunung vulkanik besar. Perlu dikethui bahwa bagian perisai dari Olympus Mons ukurannya sama dengan gunung Mauna Kea di Bumi. Ketinggian yang luar biasa dari Olympus Mons berakibat tidak adanya pergerakan lempeng tektonik yang memungkinkan gunung untuk tetap pada tempatnya. Lava gunung terus mengalir sampai mencapai ketinggian yang cukup. Dasar gunung terus menerus turun sedalam 2 km jauh ke arah kerak setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena adanya tekanan yang sangat besar menekan kerak Planet Mars.
4. Mauna Kea

Mauna Kea adalah gunung berapi aktif terbesar yang terletak di sebelah utara Pulau Hawaii, sekitar 43 km barat laut dari Hilo. Ketinggiannya 4205 m di atas permukaan laut, Mauna Kea menghujam ke wilayah laut sedalam 5547 km ke arah dasar laut. Jadi, jika dihitung dari dasar laut ke puncak gunung maka Mauna Kea adalah yang tertinggi di Bumi. Terakhir kali Mauna Kea aktif lebih dari 4000 tahun yang lalu. Pada puncaknya terdapat salju yang mengerucut dan biasa digunakan untuk bermain ski serta wilayah ini termasuk dalam situs Observatorium Mauna Kea yang merupakan observatorium astronomi tertinggi di dunia. Pada lereng bagian atas gunung terdapat gua tempat orang Hawaii kuno menggali basal untuk membuat peralatan. Lereng bawah gunung biasa digunakan untuk peternakan sapi dan perkebunan kopi. Gunung ini dianggap dalam legenda Hawaii sebagai rumah dari Dewi Poliahu, dewi api Mauna Kea.
5. Gunung Everest

Gunung Everest adalah gunung tertinggi di bumi yang terdapat di pegunungan Himalaya timur antara Nepal dan Tibet. Gunung Everest adalah sebuah gunung kapur muda yang belum terkena oleh erosi dan memiliki dua puncak, salah satunya mencapai ketinggian 8848 m. Everest selalu tertutup salju kecuali bagian yang terkena angin kencang. Banyak terdapat gletser yang meningkat dekat dasar Gunung Everest. Everest adalah nama yang diberikan pada gunung ini tahun 1865 untuk menghormati Sir George Everest, seorang surveyor Inggris di India yang menemukan lokasi gunung dan memperkirakan ketinggian gunung. Dalam bahasa Tibet diberi nama Chomolungma yang artinya “ibu dewi dunia”.



[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

5 Pegunungan Tertinggi Di Tata Surya

Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung. Nah selain di bumi ternyata di sistem tata surya kita ini juga ada pegunungan pegunungan yang tinggi tinggi nah kamu mau tahu pegunungan apa aja itu yuk kita simak 5 Pegunungan Paling Tinggi Dalam Sistem Tata Surya berikut ini.
1. Pegunungan Maxwell

Maxwell adalah titik tertinggi di permukaan planet Venus yang tingginya 11.000 m. Terletak di dataran tinggi utara Ishtar Terra, yang asal usulnya berasal dari sabuk pegunungan yang masih kontroversi mengenai awal mula terbentuknya. Maxwell ditemukan pertama kali pada tahun 1967 oleh para ilmuwan di Radio Telescope Amerika Arecibo di Puerto Rico. Gunung ini dinamai setelah matematikawan dan seorang dokter bernama James Clerk Maxwell yang bekerja menggunakan gelombang radio yang dibuat oleh radar dan akhirnya dapat megeksplorasi wilayah permukaan Planet Venus.
2. Bubungan Khatulistiwa

Terletak di belahan bumi yang gelap dari satelit terbesar ketiga, Lapetus di Planet Saturnus, Bubungan Khatulistiwa terdapat di sepanjang belahan tengah yang terisolasi beberapa puncak setinggi 20 km. Bubungan Equatorial ini ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 31 Desember 2004. Pembentukan punggungan masih diperdebatkan para ilmuwan, namun telah disepakati bahwa bubungan kuno ini terbentuk karena permukaan yang berkawah-kawah. Tonjolan yang sangat mencolok dari punggungan ini membentuk satelit Lapetus seperti buah kenari.
3. Olympus Mons

Sejauh ini gunung tertinggi yang pernah ditemukan di tata surya kita adalah gunung Olympus Mons yang tingginya 24 km di atas sebuah dataran halus di Planet Mars. Tingginya sekitar tiga kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Olympus Mons ditemukan saat penyelidikan ruang angkasa Amerika Serikat, Mariner 9, pada tahun 1971 ketika ia mengirimkan gambar empat gunung vulkanik besar. Perlu dikethui bahwa bagian perisai dari Olympus Mons ukurannya sama dengan gunung Mauna Kea di Bumi. Ketinggian yang luar biasa dari Olympus Mons berakibat tidak adanya pergerakan lempeng tektonik yang memungkinkan gunung untuk tetap pada tempatnya. Lava gunung terus mengalir sampai mencapai ketinggian yang cukup. Dasar gunung terus menerus turun sedalam 2 km jauh ke arah kerak setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena adanya tekanan yang sangat besar menekan kerak Planet Mars.
4. Mauna Kea

Mauna Kea adalah gunung berapi aktif terbesar yang terletak di sebelah utara Pulau Hawaii, sekitar 43 km barat laut dari Hilo. Ketinggiannya 4205 m di atas permukaan laut, Mauna Kea menghujam ke wilayah laut sedalam 5547 km ke arah dasar laut. Jadi, jika dihitung dari dasar laut ke puncak gunung maka Mauna Kea adalah yang tertinggi di Bumi. Terakhir kali Mauna Kea aktif lebih dari 4000 tahun yang lalu. Pada puncaknya terdapat salju yang mengerucut dan biasa digunakan untuk bermain ski serta wilayah ini termasuk dalam situs Observatorium Mauna Kea yang merupakan observatorium astronomi tertinggi di dunia. Pada lereng bagian atas gunung terdapat gua tempat orang Hawaii kuno menggali basal untuk membuat peralatan. Lereng bawah gunung biasa digunakan untuk peternakan sapi dan perkebunan kopi. Gunung ini dianggap dalam legenda Hawaii sebagai rumah dari Dewi Poliahu, dewi api Mauna Kea.
5. Gunung Everest

Gunung Everest adalah gunung tertinggi di bumi yang terdapat di pegunungan Himalaya timur antara Nepal dan Tibet. Gunung Everest adalah sebuah gunung kapur muda yang belum terkena oleh erosi dan memiliki dua puncak, salah satunya mencapai ketinggian 8848 m. Everest selalu tertutup salju kecuali bagian yang terkena angin kencang. Banyak terdapat gletser yang meningkat dekat dasar Gunung Everest. Everest adalah nama yang diberikan pada gunung ini tahun 1865 untuk menghormati Sir George Everest, seorang surveyor Inggris di India yang menemukan lokasi gunung dan memperkirakan ketinggian gunung. Dalam bahasa Tibet diberi nama Chomolungma yang artinya “ibu dewi dunia”.



[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

5 Pegunungan Tertinggi Di Tata Surya

Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung. Nah selain di bumi ternyata di sistem tata surya kita ini juga ada pegunungan pegunungan yang tinggi tinggi nah kamu mau tahu pegunungan apa aja itu yuk kita simak 5 Pegunungan Paling Tinggi Dalam Sistem Tata Surya berikut ini.
1. Pegunungan Maxwell

Maxwell adalah titik tertinggi di permukaan planet Venus yang tingginya 11.000 m. Terletak di dataran tinggi utara Ishtar Terra, yang asal usulnya berasal dari sabuk pegunungan yang masih kontroversi mengenai awal mula terbentuknya. Maxwell ditemukan pertama kali pada tahun 1967 oleh para ilmuwan di Radio Telescope Amerika Arecibo di Puerto Rico. Gunung ini dinamai setelah matematikawan dan seorang dokter bernama James Clerk Maxwell yang bekerja menggunakan gelombang radio yang dibuat oleh radar dan akhirnya dapat megeksplorasi wilayah permukaan Planet Venus.
2. Bubungan Khatulistiwa

Terletak di belahan bumi yang gelap dari satelit terbesar ketiga, Lapetus di Planet Saturnus, Bubungan Khatulistiwa terdapat di sepanjang belahan tengah yang terisolasi beberapa puncak setinggi 20 km. Bubungan Equatorial ini ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 31 Desember 2004. Pembentukan punggungan masih diperdebatkan para ilmuwan, namun telah disepakati bahwa bubungan kuno ini terbentuk karena permukaan yang berkawah-kawah. Tonjolan yang sangat mencolok dari punggungan ini membentuk satelit Lapetus seperti buah kenari.
3. Olympus Mons

Sejauh ini gunung tertinggi yang pernah ditemukan di tata surya kita adalah gunung Olympus Mons yang tingginya 24 km di atas sebuah dataran halus di Planet Mars. Tingginya sekitar tiga kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Olympus Mons ditemukan saat penyelidikan ruang angkasa Amerika Serikat, Mariner 9, pada tahun 1971 ketika ia mengirimkan gambar empat gunung vulkanik besar. Perlu dikethui bahwa bagian perisai dari Olympus Mons ukurannya sama dengan gunung Mauna Kea di Bumi. Ketinggian yang luar biasa dari Olympus Mons berakibat tidak adanya pergerakan lempeng tektonik yang memungkinkan gunung untuk tetap pada tempatnya. Lava gunung terus mengalir sampai mencapai ketinggian yang cukup. Dasar gunung terus menerus turun sedalam 2 km jauh ke arah kerak setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena adanya tekanan yang sangat besar menekan kerak Planet Mars.
4. Mauna Kea

Mauna Kea adalah gunung berapi aktif terbesar yang terletak di sebelah utara Pulau Hawaii, sekitar 43 km barat laut dari Hilo. Ketinggiannya 4205 m di atas permukaan laut, Mauna Kea menghujam ke wilayah laut sedalam 5547 km ke arah dasar laut. Jadi, jika dihitung dari dasar laut ke puncak gunung maka Mauna Kea adalah yang tertinggi di Bumi. Terakhir kali Mauna Kea aktif lebih dari 4000 tahun yang lalu. Pada puncaknya terdapat salju yang mengerucut dan biasa digunakan untuk bermain ski serta wilayah ini termasuk dalam situs Observatorium Mauna Kea yang merupakan observatorium astronomi tertinggi di dunia. Pada lereng bagian atas gunung terdapat gua tempat orang Hawaii kuno menggali basal untuk membuat peralatan. Lereng bawah gunung biasa digunakan untuk peternakan sapi dan perkebunan kopi. Gunung ini dianggap dalam legenda Hawaii sebagai rumah dari Dewi Poliahu, dewi api Mauna Kea.
5. Gunung Everest

Gunung Everest adalah gunung tertinggi di bumi yang terdapat di pegunungan Himalaya timur antara Nepal dan Tibet. Gunung Everest adalah sebuah gunung kapur muda yang belum terkena oleh erosi dan memiliki dua puncak, salah satunya mencapai ketinggian 8848 m. Everest selalu tertutup salju kecuali bagian yang terkena angin kencang. Banyak terdapat gletser yang meningkat dekat dasar Gunung Everest. Everest adalah nama yang diberikan pada gunung ini tahun 1865 untuk menghormati Sir George Everest, seorang surveyor Inggris di India yang menemukan lokasi gunung dan memperkirakan ketinggian gunung. Dalam bahasa Tibet diberi nama Chomolungma yang artinya “ibu dewi dunia”.



[[ Adhi Setia Putra Asp ]]

5 Pegunungan Tertinggi Di Tata Surya

Pegunungan merupakan kumpulan atau barisan gunung. Nah selain di bumi ternyata di sistem tata surya kita ini juga ada pegunungan pegunungan yang tinggi tinggi nah kamu mau tahu pegunungan apa aja itu yuk kita simak 5 Pegunungan Paling Tinggi Dalam Sistem Tata Surya berikut ini.
1. Pegunungan Maxwell

Maxwell adalah titik tertinggi di permukaan planet Venus yang tingginya 11.000 m. Terletak di dataran tinggi utara Ishtar Terra, yang asal usulnya berasal dari sabuk pegunungan yang masih kontroversi mengenai awal mula terbentuknya. Maxwell ditemukan pertama kali pada tahun 1967 oleh para ilmuwan di Radio Telescope Amerika Arecibo di Puerto Rico. Gunung ini dinamai setelah matematikawan dan seorang dokter bernama James Clerk Maxwell yang bekerja menggunakan gelombang radio yang dibuat oleh radar dan akhirnya dapat megeksplorasi wilayah permukaan Planet Venus.
2. Bubungan Khatulistiwa

Terletak di belahan bumi yang gelap dari satelit terbesar ketiga, Lapetus di Planet Saturnus, Bubungan Khatulistiwa terdapat di sepanjang belahan tengah yang terisolasi beberapa puncak setinggi 20 km. Bubungan Equatorial ini ditemukan oleh pesawat ruang angkasa Cassini pada tanggal 31 Desember 2004. Pembentukan punggungan masih diperdebatkan para ilmuwan, namun telah disepakati bahwa bubungan kuno ini terbentuk karena permukaan yang berkawah-kawah. Tonjolan yang sangat mencolok dari punggungan ini membentuk satelit Lapetus seperti buah kenari.
3. Olympus Mons

Sejauh ini gunung tertinggi yang pernah ditemukan di tata surya kita adalah gunung Olympus Mons yang tingginya 24 km di atas sebuah dataran halus di Planet Mars. Tingginya sekitar tiga kali lebih tinggi dari Gunung Everest. Olympus Mons ditemukan saat penyelidikan ruang angkasa Amerika Serikat, Mariner 9, pada tahun 1971 ketika ia mengirimkan gambar empat gunung vulkanik besar. Perlu dikethui bahwa bagian perisai dari Olympus Mons ukurannya sama dengan gunung Mauna Kea di Bumi. Ketinggian yang luar biasa dari Olympus Mons berakibat tidak adanya pergerakan lempeng tektonik yang memungkinkan gunung untuk tetap pada tempatnya. Lava gunung terus mengalir sampai mencapai ketinggian yang cukup. Dasar gunung terus menerus turun sedalam 2 km jauh ke arah kerak setiap tahunnya, hal ini disebabkan karena adanya tekanan yang sangat besar menekan kerak Planet Mars.
4. Mauna Kea

Mauna Kea adalah gunung berapi aktif terbesar yang terletak di sebelah utara Pulau Hawaii, sekitar 43 km barat laut dari Hilo. Ketinggiannya 4205 m di atas permukaan laut, Mauna Kea menghujam ke wilayah laut sedalam 5547 km ke arah dasar laut. Jadi, jika dihitung dari dasar laut ke puncak gunung maka Mauna Kea adalah yang tertinggi di Bumi. Terakhir kali Mauna Kea aktif lebih dari 4000 tahun yang lalu. Pada puncaknya terdapat salju yang mengerucut dan biasa digunakan untuk bermain ski serta wilayah ini termasuk dalam situs Observatorium Mauna Kea yang merupakan observatorium astronomi tertinggi di dunia. Pada lereng bagian atas gunung terdapat gua tempat orang Hawaii kuno menggali basal untuk membuat peralatan. Lereng bawah gunung biasa digunakan untuk peternakan sapi dan perkebunan kopi. Gunung ini dianggap dalam legenda Hawaii sebagai rumah dari Dewi Poliahu, dewi api Mauna Kea.
5. Gunung Everest

Gunung Everest adalah gunung tertinggi di bumi yang terdapat di pegunungan Himalaya timur antara Nepal dan Tibet. Gunung Everest adalah sebuah gunung kapur muda yang belum terkena oleh erosi dan memiliki dua puncak, salah satunya mencapai ketinggian 8848 m. Everest selalu tertutup salju kecuali bagian yang terkena angin kencang. Banyak terdapat gletser yang meningkat dekat dasar Gunung Everest. Everest adalah nama yang diberikan pada gunung ini tahun 1865 untuk menghormati Sir George Everest, seorang surveyor Inggris di India yang menemukan lokasi gunung dan memperkirakan ketinggian gunung. Dalam bahasa Tibet diberi nama Chomolungma yang artinya “ibu dewi dunia”.



[[ Adhi Setia Putra Asp ]]