Sabtu, 11 Juni 2011

Asal usul abjad

Abjad adalah sekumpulan huruf yang dipakai untuk menuliskan suatu bahasa. Huruf-huruf itu disusun dalam urutan tertentu. Setiap huruf melambangkan sebuah bunyi.

Beribu-ribu tahun yang lalu tidak ada huruf. Untuk menyatakan pikiran dan gagasannya, manusia membuat gambar. Mulanya gambar-gambar itu sederhana dan dapat dipahami oleh hampir semua orang. Kata mata dilukiskan dengan gambar mata.


Kemudian, gambar menjadi lambing suatu gagasan. Gambar mata mungkin berarti “melihat”. Orang-orang cina, mesir, dan babilonia membuat tulisan gambar yang sangat rumit. Tidaklah mudah menulis dengan gambar, untuk dapat mengungkapkan pikiran yang lengkap, penulis harus mengingat-ingat sekitar 600 lambang.

Abjad pertama diciptakan oleh bangsa FUNISIA. Untuk tiap bunyi dalam bahasanya, mereka memakai sebuah lambing. Lambing ini kemudian dipakai oleh orang yunani, yang menamakan huruf pertama dan kedua alpha dan beta. Kata “alphabet” yang berarti abjad berasal dari kedua kata tersebut.

Orang romawi memakai abjad yunani dan mengadakan perubahan-perubahan serta menambah beberapa huruf. Abjad ini kemudian menjadi apa yang kita pakai sekarang.

sumber: kaskus.us

Jumat, 10 Juni 2011

Danau Terbesar di Iran Menjadi Lautan Garam

Danau air asin terbesar di Timur Tengah dan terbesar ketiga di dunia, Oroumieh, yang terletak di Iran terancam musnah. Danau ini kini telah menjadi ladang garam raksasa lantaran airnya kering akibat salah penanganan distribusi pengairan. Danau seluas 5.200 km persegi dan berkedalaman 16 meter ini dulunya adalah tempat migrasi burung flamingo, pelikan, dan camar laut.

Sebuah perahu terdampar di danau air asin Oroumieh yang kini telah mengering, Jumat, 29 April 2011

Beberapa warga Iran berjalan menyusuri padang garam yang terbentuk akibat mengeringnya danau air asin Oroumieh, Jumat, 29 April 2011.


Danau seluas 5.200 km persegi dan berkedalaman 16 meter ini dulunya adalah tempat migrasi burung flamingo, pelikan, dan camar laut. Kini yang tersisa hanya hamparan putih garam. 


Bongkahan garam yang terbentuk akibat mengeringnya danau air asin Oroumieh di barat laut Teheran, Iran, Sabtu, 30 April 2011.


sumber: indonesiaterkini.com

Cara Selamatkan Ponsel Yang Jatuh ke Air

Apakah Anda pernah mengalami ponsel terjatuh ke dalam air. Nah, berikut cara untuk mengatasi jika ponsel jatuh ke dalam air. Ikuti langkah-langkah berikut ini:

*Jangan pernah menghidupkan ponsel

Ada alasan mengapa ponsel pintar tak bisa menyatu dengan air. Ini disebabkan karena air membuat sirkuit di dalam ponsel mengalami arus pendek. Jadi apapun yang terjadi jangan pernah menghidupkannya untuk memastikan jika ponsel itu masih bisa bekerja

*Keluarkan baterai dan kartu SIM

Jika Anda ingin mengeluarkan sesuatu maka keluarkan baterai dan kartu SIM dan kartu memori jika ada. Selama baterai ada di sana segera dikeluarkan dari tempatnya.

*Cuci di air yang bersih

Jika Anda menjatuhkan ponsel di air asin maka bersihkan dengan air tawar bersih setelah mengeluarkan baterai dan kartu SIM. Garam akan membuat ponsel bisa mengalami korosi.

*Keringkan ponsel menggunakan pengering ruangan

Pengering ruang atau penghisap debu cocok untuk membersihkan ponsel. Atau gunakan udara dingin untuk mengeringkan seperti kipas. Jangan masukkan ponsel ke dalam oven. Ini akan merusak sirkuit dan melebur bagian dalam komponen ponsel.

*Tutupi ponsel dengan beras

Masukkan ponsel yang sudah dikeringkan tadi ke dalam tempat penyimpanan beras beserta baterai dan bagian lainnya selama kurang lebih 24 jam atau 48 jam.

sumber:
- Yahoo!News
- www.tribunnews.com

Rabu, 08 Juni 2011

Ditemukan, Penakhluk Semut Argentina

Semut Argentina dikenal sangat tangguh diantara semut-semut lainnya di dunia. Jenis semut ini telah menyebar ke seluruh dunia, terutama melalui kapal-kapal pengirim gula dari Argentina.


Dimana mereka singgah, semut Argentina selalu menjadi raja dengan mengalahkan jenis semut asli setempat. Dalam setiap 'peperangan' dengan semut-semut asli di tempat barunya, semut Argentina selalu menjadi pemenangnya.

Bahkan, di California, semut Argentina dinyatakan sebagai hama karena ulahnya yang selalu merusak tanaman jeruk para petani.

Namun, kegarangan dan kehebatan semut-semut Argentina itu belakangan mendapat tandingan dari spesies semut lainnya. Dia adalah 'semut musim dingin'. Semut ini belakangan diketahui mampu menakhlukkan semut Argentina itu.


Semut musim dingin ini memiliki kemampuan beradaptasi lebih baik dengan cuaca yang sangat dingin dari pada serangga lainnya. Mereka membuat racun dalam kelenjar di perut untuk beradaptasi dengan lingkungan dinginnya. Kelenjar itu mengeluarkan obat ketika berada di bawah tekanan ekstrim.

Dari hasil penelitian, ternyata racun yang dikeluarkan oleh semut musim dingin ini mampu 'menjinakkan' semut Argentina. Satu tetes kecil racun semut musim dingin, mampu mengakhiri hidup semut Argentina. Dari percobaan laboratorium, pengujian racun memiliki tingkat membunuh 79 persen.

"Ini adalah kasus pertama kali terdokumentasi dengan baik. Dimana spesies asli yang berhasil melawan semut Argentina," kata Deborah M. Gordon, seorang profesor biologi di Stanford sebagaimana dilansir oleh upi.com, Rabu 8 Juni 2011.

Mahasiswa Gordon inilah yang pertama kali melihat semut-semut musim dingin ini mengeluarkan racunnya. "Pada awalnya, saya tidak percaya," kata dia.

"Ini adalah sekelompok semut yang tidak memiliki penyengat dan Anda tidak melihat mereka bertindak agresif, namun para siswa mampu menunjukkan dengan sangat jelas bahwa semut ini tidak hanya menggunakan racun, tapi kapan mereka menggunakannya, bagaimana mereka menggunakannya dan apa dampaknya."

sumber: vivanews.com

Sabtu, 04 Juni 2011

Cacing Ditemukan di Kedalaman Ribuan Meter

Seekor cacing ditemukan hidup ribuan meter di bawah permukaan Bumi, menjadikannya sebagai hewan yang hidup di bawah permukaan Bumi terdalam, ungkap sebuah penelitian terbaru.

Seperti yang dikutip dari National Geographics, Sabtu (4/6/2011), spesies cacing bernama Halicephalobus Mephisto tersebut diklaim sebagai hewan yang hidup di bagian terdalam Bumi.


Sebelum menemukan Halicephalobus Mephisto, diketahui bahwa Nematodes adalah hewan (sejenis cacing) yang bisa hidup di kedalaman tanah lebih dari 10 meter. Selain hewan, hanya mikroba yang bisa hidup di bawah kedalaman tanah.

Seperti yang diketahui, Halicephalobus Mephisto ditemukan hidup di sebuah tambang emas di Afrika Selatan dengan kedalaman 3,6 kilometer.

"Hewan ini berukuran jutaan kali lebih besar dari bakteri yang hidup di bawah tanah. Hal inilah yang menjadikannya sebuah temuan besar," Tullis Onstott, seorang ahli geomicrobiologist dari Princeton University di New Jersey.

Meskipun begitu tim peneliti belum yakin apakah cacing tersebut sudah diketahui sebelumnya oleh para penambang. Untuk mengetahuinya, Onstott dan ahli nematologist Gaetan Borgonie dari Ghent University di Belgia menyelidiki tambang tersebut dalam kurun waktu satu tahun.

Temuan para peneliti tersebut menyatakan bahwa cacing tersebut sudah ada di sana sejak ribuan tahun silam, sekira 3 ribu sampai 12 ribu tahun. Membuktikan pula bahwa hewan tersebut tahan terhadap panas kedalaman Bumi serta tekanannya.

sumber: okezone.com

Warna Merah Dorong Manusia Bereaksi Lebih Cepat

Berdasarkan studi terbaru yang dipublikasikan jurnal Amerika Serikat, Emotion, reaksi manusia menjadi lebih cepat dan kuat ketika melihat warna merah.

Tim peneliti mengukur reaksi pelajar dan mahasiswa dalam dua eksperimen berbeda. Pada eksperimen pertama, 30 siswa kelas 4 hingga kelas 10 diminta membuka kait dari besi. Sebelum melakukannya mereka membaca keras-keras nomor partisipan masing-masing yang ditulis dengan krayon berwarna merah atau abu-abu.

Sementara, pada uji coba kedua, sekira 46 mahasiswa diminta mengepalkan telapak tangan mereka sekencang mungkin sambil membaca tulisan 'tekan' di layar komputer. Tulisan itu memiliki latar berwarna merah, biru atau abu-abu.

Pada masing-masing eksperimen, warna merah ternyata berhasil meningkatkan reaksi masing-masing partisipan. Mahasiswa yang membaca tulisan berlatar merah mampu mengepalkan tangannya dengan kekuatan maksimal dibandingkan mereka yang membaca tulisan berlatar biru atau abu-abu.

Sedangkan pada uji coba pertama, bukan hanya tingkat kekuatan yang bertambah, namun kecepatan reaksi juga meningkat ketika partisipan melihat warna merah. Demikian seperti dilansir Straits Times, Sabtu (4/6/2011).

Penemuan ini bisa jadi ditujukan untuk pengaplikasian di bidang olahraga maupun aktivitas lain yang memerlukan reaksi seperti itu, contohnya angkat beban. Namun tim peneliti mengingatkan energi yang dihasilkan dari warna merah itu cenderung tidak bertahan lama.

sumber: okezone.com

Radiasi Ponsel Bisa Picu Kanker Otak

Menurut penelitian awal, ada bukti bahwa radiasi ponsel bisa memicu dua tipe kanker otak

Sebuah panel ilmuwan terkemuka mengungkapkan bahwa radiasi dari telepon seluler (ponsel) bisa menjadi agen penyebab kanker otak. Para ahli menempatkan ponsel dalam kategori benda yang memiliki risiko bagi kesehatan, sama dengan pestisida, DDT, knalpot bensin, dan kopi.

Menurut kantor berita Associated Press (AP), temuan ini diumumkan Selasa, 31 Mei 2011 di Lyon, Prancis, oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker setelah melakukan sejumlah riset. Badan ini berada di bawah arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah penelitian bersama selama seminggu penuh, para ilmuwan menemukan tipe radiasi elektronagnetik di telepon seluler, microwave, dan radar. Menurut mereka, ada bukti bahwa radiasi telepon seluler bisa memicu dua tipe kanker otak. Namun bukti itu perlu diteliti lebih lanjut.

"Kami menemukan beberapa benang merah, bukti yang mengungkapkan pada kami bagaimana kanker bisa terjadi. Namun masih ada beberapa hal yang belum diketahui dan harus dipastikan,"kata anggota panel, Jonathan Samet dari Universitas Southern California, seperti dimuat AP, Rabu 1 Juni 2011.

Sementara, anggota panel yang lain, Kurt Straif mengatakan, paparan tertinggi radiasi adalah saat ponsel digunakan untuk menelepon. "Untuk penggunaan pesan pendek (SMS) atau menggunakan perangkat hands-free akan memperkecil paparannya."

Namun, meski 'berpeluang karsinogen (zat penyebab kanker)' itu tak berarti ponsel secara otomatis menyebabkan kanker. Dan sejumlah ilmuwan pun yakin, temuan ini tak akan lantas mengubah kebiasaan orang.

"Apapun dimungkinkan menjadi karsinogen," kata Donald Berry, profesor biostatistik di MD Anderson Cancer Center di Universitas Texas. Ia tak terlibat dalam penelitian ini. "Ini bukan sesuatu yang saya khawatirkan dan tak akan menghentikan saya menggunakan telepon genggam."

Karena ponsel sangat populer, mungkin mustahil bagi para ahli untuk membandingkan antara pengguna ponsel yang menderita tumor otak dengan orang yang tidak menggunakan perangkat namun memiliki penyakit yang sama. Apalagi, menurut survei tahun lalu, jumlah pelanggan ponsel di seluruh dunia telah mencapai lima miliar, atau hampir tiga perempat dari populasi global.

Ponsel mengirimkan sinyal ke menara terdekat menggunakan frekuensi gelombang radio -- dengan bentuk yang sama dengan gelombang radio FM dan microwave. Namun radiasi dari ponsel tidak secara langsung merusak DNA dan berbeda dengan tipe radiasi yang lebih kuat seperti sinar X dan radiasi ultraviolet.

Dalam level tinggi, gelombang dari ponsel bisa memanaskan jaringan tubuh. Namun belum dipastikan, apakah itu bakal merusak sel tubuh manusia.

Beberapa ahli menyarankan pengguna ponsel mengenakan headset atau earpiece nirkabel jika khawatir dengan dampak yang ditimbulkan alat itu bagi kesehatan.

Menurut Otis Brawley, kepala kesehatan American Cancer Society, mengimbau agar orang-orang lebih mengkhawatirkan ancaman nyata ketimbang ponsel. "Meski ponsel bisa menyebabkan tumor otak, namun itu membunuh orang jauh lebih sedikit daripada kecelakaan lalu lintas misalnya," kata dia.

Meski demikian ia menyarankan pembatasan ponsel untuk anak-anak. Sebab, otak mereka masih berkembang.

sumber: vivanews.com